Apresiasi… Eksplorasi… Edukasi…

Author Archive

Kami di KRB II


Minggu 24 Juni 2012, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman mengadakan acara Jelajah Wisata 2012 di Kaliurang. Acara diikuti ±1.000 orang peserta pria/wanita, tua/muda bahkan anak-anak.

Menempuh jarak ±8 km dalam waktu ±3 jam, sebagian rute jelajah wisata merupakan bekas kawasan hutan kali kuning yang terkena awan panas pada erupsi Merapi 2010. Kawasan ini merupakan kawasan rawan bencana tiga (KRB III) dengan jarak ±3 km dari puncak Merapi.

Jelajah wisata Kaliurang 2012 dimaksudkan untuk meyakinkan pada masyarakat bahwa sekarang kawasan ini merupakan kawasan aman. Di sepanjang perjalanan dapat dilihat aneka ragam flora yang telah menghijau.

(more…)


‘Jenang Sumsum’


Sabtu 9 Juni 2012 lalu, Samsudi (salah seorang anggota kami) menikah dengan Anggi Widyaningrum. Selanjutnya pada hari selasa 12 Juni 2012 dilaksanakan resepsi pernikahan di gubug dewi.

Dalam setiap acara hajatan di desa, biasanya tuan rumah membentuk panitia yang terdiri atas keluarga dekat dan tetangga. Panitia ditugasi si empunya acara untuk mempersiapkan segala sesuatu guna melayani tamu sebelum, selama dan sesudah acara berlangsung.

Setelah acara selesai, tidak ada tugas khusus untuk panitia. Meski begitu, kepanitiaan masih berlaku sampai dinyatakan ‘bubar’ dalam bentuk jenang sumsuman (acara makan bersama jenang sumsum yang disiapkan tuan rumah).

(more…)


‘Tuno Sathak Bathi Sanak’


Negosiasi jual beli di pasar tradisional Jogja terkadang terasa alot. Hingga pada suatu titik tertentu transaksi disepakati pedagang seraya mengatakan ‘tuno sathak bathi sanak’ (rugi harta untung persaudaraan).

Ketika kita mendengar ungkapan tersebut dari seorang pedagang, kemungkinannya ada 2 (dua). Pertama: keuntungan pedagang ‘tipis’. Kedua: pedagang merasa harus memutar uang (modal) sehingga barang yang dinegosiasikan harus terjual meski dalam hitungan ‘rugi’. Kedua kemungkinan tersebut substansinya tetap sama: pedagang diuntungkan. Artinya masih ada kemungkinan ungkapan tersebut sekedar basa-basi pedagang.

(more…)


Mengapa Pintu Rumah Orang Jawa Rendah?


Dua hari tinggal di desa Kelor, ternyata belum diadaptasi dengan baik oleh tamu kami dari Victoria Secondary School. Beberapa tamu masih saja kepalanya terantuk rangka pintu yang rendah di ruang pertemuan.

Ruang pertemuan tersebut memang didapat dari seorang warga. Pada bagian-bagian tertentu dari ruang pertemuan mengadaptasi arsitektur jawa, seperti 4 pilar penyangga dan…rangka pintu yang rendah. Dengan arsitektur tersebut, tak heran jika tamu kami (khususnya dari luar jawa/luar negeri) kepalanya sering terantuk rangka pintu. Akan tetapi pernahkah kita berpikir mengapa rangka pintu tersebut dibuat rendah?

Jawabanpun kami dapat dari tour guide tamu Victoria Secondary School, namanya mas Yos. Mas Yos telah lama menjalani profesi sebagai tour guide. Dalam sebuah kunjungan beliau mendapatkan jawaban pertanyaan tersebut. Tanpa disadarinya, ketika dia ceritakan hal tersebut dia telah memberikan pelajaran berharga kepada kami.

Ternyata, rangka pintu rumah orang jawa dibuat rendah dengan maksud supaya orang yang hendak memasuki rumah tersebut menundukkan diri. Sikap tersebut merupakan ekspresi bentuk respect terhadap si empunya rumah. Dengan adanya respect, hubungan inter personal antara tamu dengan tuan rumahpun akan terjalin lebih erat. Dan rangka pintu yang rendah merupakan desain yang memaksa siapapun untuk respect pada sesama dengan cara memberikan keteladanan. Sebuah keteladanan adalah lebih baik daripada seribu nasehat.

Wewarah (pelajaran) orang jawa memang hanya disampaikan melalui simbol-simbol dan contoh. Para tetua (orang jawa) jarang memberikan wewarah secara langsung, tak terkecuali di Kelor. Terhadap para sesepuh, kita sebagai generasi muda yang harus proaktif menggali nilai-nilai luhur dibalik simbol-simbol tersebut…

~!@#$%^&*()_+


Daun Sirih


Tanggal 2 – 3 Juni 2011, Kelor kedatangan 19 orang tamu dari Singapura. Sebanyak 17 anak adalah siswa sekolah Victoria Secondary School (setara dengan SMP) dan 2 orang guru pendamping.

Saat makan malam tiba, salah seorang siswa tersedak sampai mimisan (hidung mengeluarkan darah). Seorang warga kami (mbak Niken) yang ditugaskan di lokasi makan malam dengan sigap berusaha membantu dengan mencarikan daun sirih. Beberapa lembar segera didapatkannya dari sekitar lokasi makan malam.

Warga kami yang lain bertanya ‘maukah tamu tersebut menggunakan daun sirih sebagai obat mimisan?’ Bayangan yang terlintas adalah negeri Singapura merupakan negeri tempat berobat para pejabat Indonesia. Logikanya mengatakan, orang Singapura sakit sedikit pastilah berobat ke dokter. Mana mungkin dia mau menggunakan daun sirih sebagai obat mimisan? Dengan mantap mbak Niken menjawab ‘lha mau diobati pakai apa kalau bukan daun sirih? di desa adanya ya pakai cara tradisional.’

Tak diduga sama sekali, ternyata tamu menyambut bantuan tersebut dengan suka cita. Beberapa lembar daun sirih yang masih ada dimintanya untuk dibawa. Gelem ngono kok, nek arep nulungi yo nulungi wae rasah mikir pindo, ora-orane nek dadi kisinan’ (Mau gitu kok, kalau mau menolong ya tolong saja, tak usah berpikir dua kali, gak mungkin akan mempermalukan kita), bisik mbak Niken pada yang lain. So? Masihkah kita berpikir ulang untuk melakukan sebuah kebaikan, meskipun sedikit?

~!@#$%^&*()_+


Prinsip Dagang Dapur Umum


Ini adalah cerita tentang situasi dapur umum kami yang lain dengan situasi lapangan. Aktivitas di dapur umum dilakukan oleh ibu-ibu, para remaja putri bahkan anak-anak. Di dapurpun kami punya seksi konsumsi – sebuah jabatan yang mentereng dengan sebutan chef dan asisten chef kalau itu di sebuah hotel. Jabatan tersebut diemban oleh Rohaniah dan Sunarti.

Sebagai chef mereka disibukkan dengan pesanan konsumsi setiap tamu sesuai dengan ragam menu dan jumlah pesanan. Merekapun harus memperhitungkan ketepatan waktu dan memastikan tempat penyajian. Kesibukannya akan meningkat tajam jika tamu memesan menu khusus (customized). Posisi tamu sebagai raja, seringkali menyibukkan chef kami sebelum maupun sesudah kedatangan tamu. Bukan tidak mungkin kalau kesibukan tersebut mengurangi jam istirahat para ibu-ibu. Berkali-kali mereka harus ‘lembur’ sampai jam sepuluh atau jam sebelas malam untuk kemudian bangun lagi pada jam dua atau tiga pagi.

(more…)


‘Cénthang’


Warga kami yang satu ini namanya Purnomo. Dia ‘kedhapuk’ menjadi seksi transportasi. Efektivitas ketugasannya di seksi tersebut tidak optimal, mengingat tamu kami kebanyakan datang dengan kendaraan sendiri. Oleh karenanya, dia mendapat tugas tambahan menjadi wakil korlap.

Komitmennya terhadap organisasi Dewi Kadjar tak diragukan lagi. Sebagai wakil coordinator lapangan (korlap), dia bertugas memberikan tanda ‘cénthang’ (tick mark) pada setiap warga yang terlibat gotong royong. Tanda ‘cénthang’ ini merupakan presensi (daftar hadir) yang akan digunakan untuk menentukan proporsi saat pembagian ‘kesejahteraan’.

Sejalan dengan intensitas keterlibatannya sebagai wakil korlap, diapun ikut tenggelam dalam pernik-pernik masalah organisasi – khususnya masalah ‘cénthang’: (more…)


Jujur & Transparan versi Petani (sekaligus Pedagang)


Sebuah sms yang masuk ke inbox saya kemarin sore. Ternyata dari seorang teman (namanya Ipung) yang memesan buah salak untuk oleh-oleh keluarganya yang datang ke Jogja. Dia ingin datang ke Kelor tetapi khawatir waktunya tidak memungkinkan karena hari sudah menjelang senja. Jadilah ia kirim sms ke saya dan pesanan akan diambil pagi berikutnya.

Saya meneruskan pesanan tersebut ke tetangga (namanya Misroji), seorang pemuda Kelor yang berprofesi sebagai petani salak pondoh – beres pikir saya.

Pagi harinya Ipung datang ke saya dan saya antar langsung ke Misroji. Pesanan salak ternyata belum dipacking.  Dan terjadilah percakapan antara pembeli dan penjual berikut:

(more…)


Angon Mongso: Demokratisasi ala Desa


Angon = menggembala, mongso = musim. Jadi kalau angon mongso diartikan sebagai menggembala musim ya tidak ada artinya. Pengertian mongso tersebut berasosiasi pada makna waktu. Kata tersebut merupakan idiom bahasa jawa yang artinya mencari waktu yang tepat untuk bertindak.

Bagi orang desa (Jawa) angon mongso bukanlah sebuah ketakutan bertindak. Ia lebih merupakan bentuk strategi agar supaya mencapai hasil yang lebih gemilang, karena setiap tindakan diperhitungkan secara matang.

Dalam konteks komunikasi, angon mongso dapat dilihat sebagai bentuk etika berkomunikasi…dengan target utamanya adalah pemahaman komunikan (penerima pesan). Pesan yang baik, gagal dipahami komunikan jika komunikator (penyampai pesan) tidak angon mongso.

(more…)


Peremajaan Tanaman Salak


Pohon salak termasuk jenis tanaman palma. Di sepanjang batang pohon, dapat tumbuh akar serabut. Semakin dewasa sebuah tanaman, akar mengikuti pertumbuhan tanaman tersebut.

Karakteristik seperti ini memudahkan peremajaan tanaman agar produktivitas tetap terjaga. Untuk tanaman salak, umumnya dilakukan pada umur 10 tahun. Caranya adalah sebagai berikut:

  1. Siapkan cangkokan menggunakan ember.
  2. Tunggu sampai tumbuh akar (± 2 bulan).
  3. Potong di bawah cangkokan.
  4. Lepaskan ember.
  5. Tanam di tanah yang telah disiapkan pupuk (kandang/organik).

Anda memiliki tanaman berakar serabut? Cara tersebut mungkin dapat dilakukan. Hati-hati dengan tanaman kesayangan anda karena tidak semua tanaman berakar serabut dapat dilakukan pencangkokkan. Atau anda mau mempraktikkannya di Kelor? Kami siap membantu anda mempraktikkannya.

~!@#$%^&*()_+


Gotong Royong, Kurang Kerjaan?


Mulai tanggal 15 Februari 2012 kemarin, warga Kelor melaksanakan gotong royong setiap hari Rabu dan Kamis. Adapun gotong royong yang dilaksanakan kali ini adalah pengerasan jalan menuju makam.

Selain menuju makam, jalan tersebut mengarah ke beberapa kebun milik warga. Dapat dikatakan, mobil tidak pernah melalui jalan ini, karena tanahnya agak gembur (menyulitkan kendaraan yang lewat).

Frekuensi yang paling sering, digunakan warga menuju kebun salak. Yang berikutnya digunakan warga untuk menuju makam, baik gotong royong membersihkan makam maupun pemakaman orang meninggal.

Orang kota mungkin bertanya-tanya, apakah biaya pengerasan jalan tersebut seimbang dengan manfaat yang diperoleh? Tapi warga desa punya jalan pikiran berbeda. Mereka selalu punya alasan untuk bersosialisasi dengan warga lainnya. Salah satunya adalah kerja bakti…

~!@#$%^&*()_+


Kesahajaan dalam Pemberian Nama


Hari kedua festival seni tradisi di Kaliurang 28 – 29 Januari 2012. Dari 35 Desa Wisata yang di undang untuk tampil dalam festival tersebut, hanya diikuti 12 desa wisata. Sebanyak 8 desa wisata telah tampil pada hari pertama.

Pada hari kedua tampil 4 desa wisata, masing-masing adalah Desa Wisata Tanjung dengan kesenian ‘Pek Bung’, Desa Wisata Rumah Domes dengan kesenian ‘Ronda Tek-Tek’, Desa Wisata Kelor dengan kesenian ‘Klenthingan’ dan terakhir Desa Wisata Jethak 2 dengan kesenian ‘Gejog Lesung’.

(more…)


Nilai Sosial Sambatan, bukan Efektivitas ataupun Efisiensinya


Sambatan berasal dari akar kata sambat, yang artinya mengadu. Bagi orang Jogja – terutama warga desa, kata sambatan merupakan istilah yang digunakan untuk gotong royong.

Istilah ini mempunyai makna khusus karena hanya cocok ditujukan untuk gotong royong warga dalam membangun rumah. Jadi tidak setiap gotong royong menggunakan istilah sambatan. Untuk gotong royong memperbaiki jalan fasilitas umum lainnya, istilah gugur gunung lebih populer digunakan.

Setiap pelaksanaan sambatan, pemilik rumah (yang punya gawé) tidak perlu memberikan kompensasi pada tenaga kerja. Namun mereka umumnya menyediakan makan minum seadanya.

(more…)


Mental Juara, Meski Belum Juara


26 Desember 2011, kami mengikuti lomba masak antar desa wisata sekabupaten Sleman. Lomba dilaksanakan di Kaliurang, sebuah tempat wisata alam di lereng merapi. Materi yang dilombakan ditekankan pada potensi kuliner masing-masing dengan bahan-bahan lokal.

Lomba diikuti 14 desa wisata dari 35 desa wisata yang ada di kabupaten Sleman. Setiap peserta mengirimkan tim sebanyak 5 orang. Usaha untuk menang, sudah pasti dilakukan semua peserta termasuk kami. Dengan kepercayaan diri masing-masing setiap peserta mengerahkan segenap kemampuan dan potensi yang dimilikinya.

Tiba saat penentuan pemenang, hanya 3 peserta yang mendapat nomor. Mereka adalah desa wisata Kembang Arum (Dewi Kembar) sebagai juara pertama, dan desa wisata Kaliurang Timur sebagai juara kedua dan ketiga. Kesebelas tim peserta yang lain dipastikan tidak mendapat nomor.

(more…)


Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata


Ini merupakan kekayaan bahasa jawa yang tak terakomodasi huruf latin. Dalam bahasa jawa, penulisan huruf vokal a/bunyi antara o & a menggunakan huruf yang sama. Untuk variasi bunyi huruf vokal yang lain seperti i/u/e juga menggunakan huruf yang sama, dengan ‘sandangan’ (tanda baca) yang berbeda. Jangan sampai salah membaca kalimat tersebut, bisa tak berarti ataupun berarti lain.

Huruf a pada ungkapan di atas dibaca dengan posisi bibir mengucapkan huruf ‘O’ tetapi yang dikeluarkan bunyi ‘A’. Maknanya adalah masing-masing tempat punya adat istiadat ataupun metoda yang berbeda dan diterima masyarakat setempat. Saya teringat ungkapan tersebut ketika mengunjungi desa wisata Plempoh di Prambanan 3 Oktober 2011 lalu. (more…)


Sikap Merakyat Pak Mantan


Senin 29 Agustus 2011 dini hari, seorang warga kami membangunkan warga dusun dari rumah ke rumah untuk menyampaikan berita duka. Dikabarkan bahwa pak Mantan telah dipanggil Yang Maha Kuasa dalam usia 75 tahun. Pak Mantan bukanlah nama melainkan sebutan untuk bapak Dirjo Harjono. Di kampung, penggunaan sebutan profesi atau jabatan (seperti pak guru, pak lurah dll.) masih lazim digunakan daripada menyebut nama.

Ceritanya, dulu sebutan untuk pemimpin kampung adalah dukuh. Pada masa orde baru disebut dengan kepala dusun (Kadus). Sekarang diganti lagi dengan sebutan dukuh. Kedua pimpinan kampung kami (lama dan baru) mengalami penggunaan kedua sebutan tersebut. Untuk membedakan keduanya, kami menyebut pejabat lama dengan pak mantan, sedangkan sebutan untuk pejabat baru adalah pak dukuh.

Kami tak tahu apa perbedaan prinsip antara sebutan dukuh dan kepala dusun. Yang kami tahu negeri ini sok sibuk mengurus hal-hal yang tidak prinsip. Dan kejadian tadi malam, mengingatkan kami pada sikap teladan pak mantan semasa menjadi dukuh.

(more…)


Syukuran Khataman Ramadhan 1432 H


Minggu 21 Agustus 2011 kami mengadakan syukuran di masjid Al Huda Kelor. Hari tersebut merupakan kali kedua kami khatam Al Qur’an selama bulan ramadhan 1432H. Tidak seperti ramadhan yang lalu, tadarus ramadhan kali ini juga diikuti oleh anak usia 10 tahun sebagai peserta termuda.

Pada kesempatan tersebut juga disampaikan infaq dari siswa magang beberapa hari sebelumnya. Diwakili oleh Ken Husnan Isard, infaq siswa magang SMP Budi Mulia Dua (SMP BMD) disampaikan langsung kepada bendahara masjid Aa Gyan. Terima kasih adik-adik SMP BMD, selamat untuk seluruh peserta tadarus ramadhan 1432H…..

 ~!@#$%^&*()_+


Sekolah Umum bernama Masyarakat


Sabtu 13 Agustus 2011 sore menjelang berbuka puasa. Masjid Al Huda Kelor mendapat kunjungan tamu siswa kelas 9 SMP Budi Mulia Dua. Jumlah tamu ada 3 orang, yaitu: Ken Husnan Isard, Rivanda Irawan dan Ahmad Faiz Ramadhan. Tempat tinggal Ken kebetulan berada satu halaman dengan masjid tersebut. Jadi kalau dibilang tamunya 3 orang tentunya tidak persis 3 orang.

Kehadiran ketiga siswa tersebut adalah untuk magang ramadhan. Magang merupakan program sekolah yang bertujuan melatih kepekaan sosial dan kemandirian. Adapun tema yang diangkat adalah ‘Pertebal Iman dengan Kegiatan Sosial”.

Dengan cara magang, siswa dapat merasakan dan menyelami dinamika yang ada di masyarakat. Pepatah mengatakan “kamu dengar kamu lupa, kamu lihat kamu ingat, kamu kerjakan kamu mengerti”.

Ada banyak cara untuk mengerti, dan magang hanyalah salah satu diantaranya. Maka yang terjadi adalah “sekolah mengasah kemampuan siswa berpikir logis, kritis dan analitis”. Pada sisi lain, masyarakat mengajarkan kehidupan. Keduanya berguna untuk memecahkan masalah.

Tradisi keduanya berbeda. Sekolah mengajarkan tradisi akademis, sedangkan masyarakat dengan realitasnya. Dapat dikatakan bahwa masyarakat merupakan sekolah umum. Tak ada istilah tamat untuk sekolah tersebut…. ada lagi yang berminat? Kami menyediakan fasilitas dengan program live in.

 ~!@#$%^&*()_+


All Out = Hangabehi ≠ Serabutan!


Setiap memasuki bulan puasa, objek wisata di Indonesia umumnya sepi pengunjung. Tak terkecuali Desa Wisata Kampoeng Sedjarah Kelor. Meskipun kami tetap buka di bulan puasa, akan tetapi tamu yang telah memesan tercatat hanya tanggal 28 Agustus 2011. Tanggal tersebut merupakan hari-hari terakhir bulan ramadhan kali ini.

Bulan puasa merupakan hari-hari yang cukup berat untuk melakukan aktivitas berat. Akan tetapi justru sepinya pengunjung dimanfaatkan beberapa pemuda untuk memperbaiki sarana yang ada. Ketika ditanyakan mengapa memilih waktu bulan puasa? Salah satunya menjawab: “Kalau tidak bulan puasa, kapan lagi? Hanya itu waktu luang kita!”

(more…)


Bukan Hasil, tapi Prosesnya!


Minggu 7 Agustus 2011 merupakan hari yang dinantikan santri-santri TPA Al Huda Kelor. Hari itu merupakan hari pelaksanaan lomba antar TPA sekecamatan Turi. Lomba dilaksanakan di balai desa Wonokerto. Beberapa santri telah mempersiapkan diri beberapa hari sebelumnya.

Ketika hari yang ditentukan tiba, berangkatlah delegasi lomba dengan beberapa ustadz pendamping. Sebagaimana pelaksanaan lomba yang lain, proses pelaksanaan lomba dimulai dengan registrasi – pelaksanaan lomba – penentuan pemenang dan pengumuman pemenang.

Setibanya di balai desa Wonokerto, mendaftarlah ustadz pendamping. Ternyata salah satu delegasi kami (dik Alka) tidak dapat mengikuti lomba karena usianya belum mencukupi. Lomba yang diselenggarakan adalah untuk anak-anak usia SMP, sedangkan dik Alka masih berada di kelas IV SD.

(more…)


Selai Salak: Menu Baru DewiKadjar


Buah salak merupakan salah satu produk unggulan Kabupaten Sleman. Menurut beberapa penikmat buah salak, Sleman merupakan penghasil salak dengan rasa terlezat. Tidak seluruh Sleman, karena salak kebanyakan berada di Sleman utara (terhampar dari kecamatan Tempel, Turi, Pakem dan Cangkringan) – dan Turi adalah penghasil salak yang paling enak diantara keempat kecamatan tersebut.

Namun, pasca erupsi merapi merupakan hari-hari tidak menentu bagi sebagian besar petani salak. Bagaimana tidak, harga yang bagus menjelang lebaran 2011 kali ini tidak dibarengi dengan ketersediaan produk yang mencukupi. Selain faktor alam yang masih dalam tahap recovery, supply salak dari daerah lain turut mengacaukan harga.

(more…)


Sadranan: Media Lain Bersosialisasi


Bulan Sya’ban bagi sebagian umat islam di Indonesia sering di identikkan dengan Nyadran (ziarah Kubur bersama). Terlepas dari perdebatan tentang perlu tidaknya sadranan, warga Kelor melakukan sadranan 1432 H pada tanggal 17 Juli 2011.

Nyadran di Kelor seperti halnya nyadran di tempat lain. Sanak saudara di rantau, pulang mengikuti acara tersebut. Sedikit pembeda yang ada adalah: warga kami yang memeluk agama lainpun sedikit banyak terlibat dalam acara tersebut. Jadilah acara nyadran di kampung kami sebagai salah satu media bersosialisasi antar warga. Nyadran seperti ini dapat disebut sebagai sadranan yang sadranis (Prasetyo, 2011).

 

~!@#$%^&*()_+


Treking Darat atau Air, Alternatif Menuju Sehat


Sleman memang memiliki lansekap yang cukup bervariasi. Ada pegunungan di sisi utara, perkebunan dan perikanan di tengah, persawahan di bagian barat, dan perbukitan di sisi timur.

Sejak dicanangkannya desa wisata pada tahun 2005, hampir setiap desa wisata di Sleman memiliki kekhasan tersendiri. Ada yang merupakan desa wisata budaya, desa wisata alam, desa wisata fauna, desa wisata pertanian dll.

10 Juli 2011, delegasi kami mengikuti Jelajah Wisata Dome 2011. Mengambil titik start dan finish di rumah dome Prambanan (relokasi korban gempa 2006), dengan menyusuri daerah perbukitan. Keringat langsung bercucuran pada 15 menit pertama. Beberapa penduduk yang kami temui malah berjalan sambil menggendong beban. Hal itu memberi semangat kami untuk terus berjalan bersama dengan peserta yang lain. Ada kepuasan ketika kami temukan keramahan penduduk, berada pada daerah ketinggian dan melihat pemandangan di bawahnya. Selama kurang lebih 2 jam akhirnya kami tiba di garis finish.

Pulang dari trekking darat, kami menyempatkan mampir ke kampung Dayakan. Ada sebuah rumah yang kami sebut dengan Ndalem Kasumalen (pemiliknya adalah rekan kami – Sumali). Rupanya, rica-rica enthok telah disiapkan sejak pagi hari. Bagi kami yang kelelahan, itu merupakan menu wajib untuk dinikmati. Paduan nasi gurihnya itu lo…mmm…sangat menggugah selera. Saat ini Ndalem Kasumalen belum membuka warung dan hanya melayani pesanan melalui telp. 081-8041-72217. Itupun harus dilakukan pada H-1.

Situasi yang berbeda dapat di temui di Kelor. Di sini kami memiliki sungai Bedog sebagai tempat untuk melakukan trekking. Tak banyak keringat yang akan tercurah saat melakukan trekking sungai Bedog. Satu hal yang membuatnya sama dengan trekking rumah dome adalah bahwa trekking darat maupun air, keduanya menyehatkan badan. Salam desa wisata…

~!@#$%^&*()_+


nJajag Deso Milang Kori


Njajag deso milang kori merupakan ungkapan bahasa jawa yang berarti dari desa ke desa menghitung pintu. Maknanya adalah gambaran sebuah perjalanan dari wilayah yang satu ke wilayah yang lain.

nJajag Deso Milang Kori merupakan pengembangan objek wisata yang sudah ada sebelumnya di Desa Wisata Kampoeng Sedjarah Kelor. Dulu hanya sekedar ngontel (bersepeda) keliling dusun, sekarang diperluas sampai di dusun-dusun  di lereng Merapi.

(more…)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.