The Family Athmosphere, Even in Sad Situation


Tuesday Pon, October 12, 2010 is currently grieving for us residents of the Kelor village. At 6 pm, one of the members of the we are family (Mrs.Harmiyati) to her after battling breast cancer for 1 year. We refer to her as family members because it is the in the hamlets we’ve been like family.

Mrs.Harmiyati died after undergoing care at the RSUP dr.Sarjito Yogyakarta for 8 days. 3 month ago have also been treated in hospital that same during 14 days. For the treatment, of course there’s always of us who accompany Mr.Harwanto (husband of Mrs.Harmiyati) in the hospital. The family was also felt in the village Kelor. His son is still small (Teo – 12 years old) shuttle transfer to the school. While her daughter (Tia – 1 year) was raised alternately by citizens.

When a family member has died, the family extends even to the next village. Kelor village neighboring with Ledoknongko hamlets within ± 600 meters. Between Kelor with Ledoknongko have different hamlets (sort RW in the city).

Over the years, it has become an unwritten agreement between the two hamlets that if anyone dies hamlet Kelor then dig the graves are villagers Ledoknongko. Likewise, if there are villagers who died Ledoknongko then the villagers digging graves is Kelor.

====================================

Suasana Kekeluargaan, Di Saat-Saat Sedih Sekalipun

Selasa Pon 12 Oktober 2010 merupakan saat berduka bagi kami warga dusun Kelor. Tepat pukul 18.10 WIB, salah seorang anggota keluarga kami (ibu Harmiyati) dipanggil menghadapNya setelah berjuang melawan kanker payudara selama ± 1 tahun. Kami menyebut anggota keluarga karena memang persaudaraan di dusun kami sudah seperti keluarga.

Ibu Harmiyati meninggal setelah menjalani perawatan di RSUP dr. Sarjito Yogyakarta selama 8 hari. 3 (tiga) bulan sebelumnya pernah juga dirawat di rumah sakit yang sama selama 14 hari. Selama perawatan, selalu saja ada warga kami yang menemani bapak Harwanto (suami ibu Harmiyati) di rumah sakit. Suasana kekeluargaan juga terasa di kampung Kelor. Putra beliau yang masih kecil (Teo – 12 tahun) diantar jemput ke sekolah. Sedangkan putrinya (Tia – 1 tahun) diasuh secara bergantian oleh warga.

Di saat ada anggota keluarga yang meninggal, suasana kekeluargaan bahkan meluas hingga ke dusun sebelah. Dusun Kelor bertetangga dengan dusun Ledoknongko yang berjarak ± 600 meter. Antara Kelor dengan Ledoknongko telah berbeda padukuhan (semacam RW di kota).

Selama bertahun-tahun, telah menjadi kesepakatan tak tertulis diantara kedua dusun bahwa jika dusun Kelor ada yang meninggal maka yang menggali kubur adalah warga dusun Ledoknongko. Demikian pula sebaliknya, jika ada warga dusun Ledoknongko yang meninggal maka yang menggali kubur adalah warga dusun Kelor.

Di jaman modern yang cenderung hedonis dan individualistik seperti sekarang, mungkinkah model persaudaraan dan kekeluargaan di Kelor tersebut diadopsi di tempat lain? Atau, ada yang berminat untuk menghayati makna persaudaraan dan kekeluargaan yang sesungguhnya di Kelor?

~!@#$%^&*()_+

Advertisements

One thought on “The Family Athmosphere, Even in Sad Situation

  1. hhhmmmm tak cma di kelor mas, cba tengok tetangga kanan kiri smuanya jga memakai prinsip itu sblum simbah2 kita lahir, contoh saja klo dadapan ada yg meninggal pasti selowangsan yg menggali kubur, dan itu hampir berlaku di semua dusun yg berseberangan,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s