Sikap Narimo…


Lessons are sometimes not necessarily obtained when a person experiences a disaster. No exception our Kelor villagers who fled the eruption of Mount Merapi in 2010. Currently, the experience evacuate for two weeks has been restored to re-organize our mental life.

If you look at our people in Jumoyo Village Magelang, they are still in refugee camps. Waiting with a feeling of palpitations due to cold lava is still a threat. The same was felt by our brothers in Cangkringan, because it has been ascertained that his hometown is a ban on inhabited areas.

A citizen of our village (Hadi – 43 years) who is the chairman of RT 02 Kelor Village once Field Chief of Dewi Kadjar. In a chat at the substation ronda, shortly after the eruption of Merapi.” Biyen gek rame-ramene ngungsi aku niliki kulon kali (istilah sungai krasak sebagai batas wilayah DIY – Jateng), awake dewe isih bersyukur, semono ugo wong kulon kali kudune yo bersyukur nek niliki kahanan neng Cangkringan. That means is  At the past al lot of refuges, I saw the situation in the area Muntilan, we should be grateful. Similarly, our brothers in the region Muntilan, it should also be grateful if we saw our familly united in the Cangkringan area.

There are our colleagues who nyeletuk, LHA kept our brothers in Cangkringan should see relatives who manalagi to be grateful. The answer really straightforward: “po syukur ki ndadak ngenteni musibah?” (What thankful it must await the catastrophe?). That is where the need for Narimo attitude  (willingly accept the trials) of the Almighty God.

=========================================================================

Hikmah kadang tidak serta merta diperoleh saat seseorang mengalami musibah. Tak terkecuali kami, warga dusun Kelor yang mengungsi pada letusan gunung Merapi tahun 2010 lalu. Saat ini, pengalaman mengungsi selama 2 minggu telah memulihkan mental kami untuk kembali menata hidup.

Jika menengok saudara kita di kampung Jumoyo Magelang, mereka masih berada di kamp pengungsian. Menanti dengan perasaan berdebar dikarenakan lahar dingin masih merupakan ancaman. Hal yang sama juga dirasakan oleh saudara kita di Cangkringan bagian atas, karena telah dipastikan bahwa kampung halamannya merupakan daerah larangan untuk dihuni.

Adalah seorang warga kami (Hadi – 43 tahun) yang merupakan ketua RT 02 kampoeng Kelor sekaligus Korlap Dewi Kadjar. Dalam sebuah obrolan di gardu ronda, lama setelah kejadian erupsi Merapi. Biyen gek rame-ramene ngungsi aku niliki kulon kali (istilah sungai krasak sebagai batas wilayah DIY – Jateng), awake dewe isih bersyukur, semono ugo wong kulon kali kudune yo bersyukur nek niliki kahanan neng Cangkringan. Artinya kurang lebih begini: dulu ketika rame-rame mengungsi, saya sempat melihat keadaan di daerah Muntilan, mestinya kita bersyukur. Demikian pula saudara-saudara kita di daerah Muntilan, mestinya juga bersyukur kalo melihal keadaan saudaranya di daerah Cangkringan.

Ada rekan kami yang nyeletuk, lha terus saudara kita yang di Cangkringan harus lihat saudara yang manalagi untuk bersyukur. Jawabnya sungguh lugas: po syukur ki ndadak ngenteni musibah? (apa bersyukur itu harus menanti terjadinya musibah?). Disitulah perlunya sikap narimo (ikhlas menerima cobaan) dari yang Maha Kuasa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s