Mr. Mantan—The Down-To-Earth Man


Yesterday, short message service (sms) was coming into my inbox. It was coming from Ipung. She ordered fruits as souvenirs for her families who came to Yogyakarta. She wanted to come to Kelor but worried about the time because it was already dusk. Thus, she sent sms to me and the order would be taken next morning.

I passed on the order to my neighbour. His name is Misroji, a young man who works as a salak pondoh farmer.

Next morning, Ipung came to see Misroji. The order had not packed yet. There was a conversation between buyer and seller.

Ipung: This salak, Sir?

Misroji: Yes Ma’am.

Ipung: Why didn’t you pack the salak?

Misroji: I didn’t pack the salak yet because I wanted you to see the goods (while preparing the scales).

Ipung: Okay. What do you do after this?

Misroji: I wanted to weigh the salak, check out the scales.

Ipung: I trust you. You don’t have to weigh the salak. Please, hurry!

Misroji: Okay. Please, choose the package. If the box is not enough, how about disposable sack?

Ipung: That’s okay, because I’m in hurry. Hap hap hap.

After the package done, Misroji whispered to me, “I didn’t pack the salak because I think the buyer would be more stable if the salak weighed before packed.’ I answered, “Yes I know. But, she is in hurry”.

The attitude is common to  Misroji all citizens Kelor. Farmers, which sometimes doubles as a trader, showed the goods and weighed them in front of the buyer. The attitude is a value honesty and transparency. If you ordered salak to our citizens, please add more time for checking the items and scales – especially when you in a hurry.

 

===========================Sikap Merakyat Pak Mantan========================

 

Senin 29 Agustus 2011 dini hari, seorang warga kami membangunkan warga dusun dari rumah ke rumah untuk menyampaikan berita duka. Dikabarkan bahwa pak Mantan telah dipanggil Yang Maha Kuasa dalam usia 75 tahun. Pak Mantan bukanlah nama melainkan sebutan untuk bapak Dirjo Harjono. Di kampung, penggunaan sebutan profesi atau jabatan (seperti pak guru, pak lurah dll.) masih lazim digunakan daripada menyebut nama.

Ceritanya, dulu sebutan untuk pemimpin kampung adalah dukuh. Pada masa orde baru disebut dengan kepala dusun (Kadus). Sekarang diganti lagi dengan sebutan dukuh. Kedua pimpinan kampung kami (lama dan baru) mengalami penggunaan kedua sebutan tersebut. Untuk membedakan keduanya, kami menyebut pejabat lama dengan pak mantan, sedangkan sebutan untuk pejabat baru adalah pak dukuh.

Kami tak tahu apa perbedaan prinsip antara sebutan dukuh dan kepala dusun. Yang kami tahu negeri ini sok sibuk mengurus hal-hal yang tidak prinsip. Dan kejadian tadi malam, mengingatkan kami pada sikap teladan pak mantan semasa menjadi dukuh.

Masa-masa awal kepemimpinan pak mantan, alat komunikasi belum secanggih sekarang. Dulu setiap akan gotong royong kampung, pak mantan menghampiri warganya dari rumah ke rumah. Sampai pertengahan masa pengabdian (beliau mengabdi selama 27 tahun), alat komunikasi yang berkembang di kampung adalah pengeras suara – yang hanya ada di masjid. Konon alat tersebut dapat terpasang di masjid-masjid  juga dengan pendekatan politis antara penguasa – pengusaha, dan pemuka masyarakat.

Jika mau, sebenarnya ajakan gotong royong dapat diumumkan di masjid – jauh lebih efektif dan efisien. Akan tetapi pak mantan tidak melakukannya, ia tetap memilih mengajak warganya dari rumah ke rumah. Tidak efisien memang, tapi alasan beliau adalah: cara yang dipilih membuat dirinya lebih dekat dengan warga. Dan ternyata, cara yang dipilih almarhum terbukti meningkatkan partisipasi warga dalam bergotong royong. Rupa-rupanya, ‘waktu kepulangan’ pak mantan telah dipilihNya untuk mengingatkan kami pada keteladanan yang beliau tinggalkan. Selamat jalan pak mantan, terima kasih atas pelajaran berhargamu…

~!@#$%^&*()_+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s