Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata


The title above is Javanesse proverb so that it should be pronounced right. Javanesse language is a unique culture. Writing vowel of ‘a’ is being pronounced as ‘o’ or still ‘a’. But the other vowels—i/u/e/o—are being pronounced in usual way. The differentiation in pronounced the takes place on ‘sandangan’— the punctuation marks. Make sure that you’ve pronounced Javanesse language right because it’s gonna place you in miscommunication.

Vowel of ‘a’ in the proverb above are being pronounced by O-shaping the mouth, but the voice produced is still ‘a’. That proverb means that each place has each embedded culture. And the unique behind story is I reminded to this proverb when I was in Desa Plempoh, spesifically when I was under Candi Ratu Boko, October 3rd, 2011.

Mr. Sardi—Plempoh’s leader—told the story about how great the potential the village has. That potential is being showed in form of Candi Ratu Boko, a temple that exists in the middle of another temples. Candi Ratu Boko is being managed by government-owned body named Badan Usaha Milik Negara (BUMN) and Balai Kepurbakalaan. Mr. Sardi thinks that Plempoh’s professionality as tourism village should be improved by some radical way. Highlight the things related to discipline lifestyle of China and Japan. China and Japan has showed us that their discipline lifestyle has improved their nations’ life aspects. Only competent and desireous people that will participate in improving the village.

The most different things happened to another tourism village—Kampoeng Sedjarah Kelor. It used village management, especially Javanesse people management, that mentioned ‘alon-alon waton kelakon‘ as its foundation—do something well although it should be doing slowly. People include in all activities either directly or indirectly. We think that it is a form of improving citizen’s empowerment that is stronger toward regional economic affair, especially global. No matter what the nation is, selected method is suited based on the surrounding environment. Modern class called it contextual, but Javanesse people called it with the proverb ‘desa mawa cara, negara mawa tata‘.

======================Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata=======================

Ini merupakan kekayaan bahasa jawa yang tak terakomodasi huruf latin. Dalam bahasa jawa, penulisan huruf vokal a/bunyi antara o & a menggunakan huruf yang sama. Untuk variasi bunyi huruf vokal yang lain seperti i/u/e juga menggunakan huruf yang sama, dengan ‘sandangan’ (tanda baca) yang berbeda. Jangan sampai salah membaca kalimat tersebut, bisa tak berarti ataupun berarti lain.

Huruf a pada ungkapan di atas dibaca dengan posisi bibir mengucapkan huruf ‘O’ tetapi yang dikeluarkan bunyi ‘A’. Maknanya adalah masing-masing tempat punya adat istiadat ataupun metoda yang berbeda dan diterima masyarakat setempat. Saya teringat ungkapan tersebut ketika mengunjungi desa wisata Plempoh di Prambanan 3 Oktober 2011 lalu.
Tepatnya di bawah candi ratu boko selatan prambanan.

Diceritakan oleh bapak Sardi (ketua desa wisata Plempoh), bahwa kampung tersebut memiliki potensi yang luar biasa berupa candi ratu Boko. Candi tersebut dikelilingai beberapa candi lain.

Candi ratu boko berada dalam pengelolaan sebuah BUMN dan dalam pengawasan balai kepurbakalaan. Menurut bapak Sardi, profesionalitas desa wisata Plempoh perlu diakselerasi dengan cara-cara yang radikal. Penekanannya adalah pada penegakan disiplin ala Cina & Jepang. Menurut pandangannya, cara bangsa Cina dan Jepang telah terbukti membawa kemajuan pada bangsa tersebut. Jadi, hanya orang-orang yang mau dan berkompeten saja yang terlibat dalam pengembangan desa wisata.

Hal yang sangat berbeda terjadi pada Desa Wisata Kampoeng Sedjarah Kelor. Manajemen yang dipakai adalah manajemen orang desa khususnya jawa – ‘alon-alon waton kelakon’ (biar lambat yang penting sampai). Seluruh masyarakat terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Yang lebih dikedepankan di kampoeng kami adalah partisipasi seluruh warga. Bagi kami, ini merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat yang lebih tahan terhadap gejolak perekonomian regional, apalagi global. Ala Jawa, Cina ataupun Jepang, tak ada yang salah dengan metoda yang dipilih…semua tergantung lingkungannya…orang modern menyebutnya dengan kontekstual…orang jawa menyebutnya dengan ungkapan ‘desa mawa cara, negara mawa tata.’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s