Social Values ​​of “sambatan” , not effectiveness or Efficiencies


Sambatan is derived from the word Sambat, which means pitting. For the Jogja villagers, sambatan is a term used for a gotong royong to build a house.  Homeowners do not have to give money to the people who help, but they must provide food and drinks.

Previously, they used to provide rice and vegetables in the form of sengèk (Istrian cuisine in the form of coconut milk spiced tempe). Nowadays, they often provide side dishes such as eggs or other dishes. With the price of the food today, sambatan no longer as cheap as before.

Each implementation of the sambatan can not be predicted on how many people would come to help, but homeowners must prepare food with ‘enough’ portions. However sometimes, when homeowner prepares small amount of food, a lot of people come. When homeowner serves plenty of food, only a few comes. As a result, completion of the work could be delayed.

So, when there is a sambatan, do not think about the effectiveness or efficiency. For the villagers, the most important point is the social value…

=========Nilai Sosial Sambatan, bukan Efektivitas ataupun Efisiensinya ===========

Sambatan berasal dari akar kata sambat, yang artinya mengadu. Bagi orang Jogja – terutama warga desa, kata sambatan merupakan istilah yang digunakan untuk gotong royong.

Istilah ini mempunyai makna khusus karena hanya cocok ditujukan untuk gotong royong warga dalam membangun rumah. Jadi tidak setiap gotong royong menggunakan istilah sambatan. Untuk gotong royong memperbaiki jalan fasilitas umum lainnya, istilah gugur gunung lebih populer digunakan.

Setiap pelaksanaan sambatan, pemilik rumah (yang punya gawé) tidak perlu memberikan kompensasi pada tenaga kerja. Namun mereka umumnya menyediakan makan minum seadanya.

Pada jaman dahulu, mereka biasa menyediakan nasi dan sayur (sekaligus sebagai lauk) berupa sengèk. Masakan desa yang berupa tempe dibumbui santan. Dijaman sekarang, menyajikan sengèk tidak lagi lazim dilakukan pemilik rumah. Mereka lebih umum menyediakan lauk berupa telur atau lauk setara lainnya.

Dengan harga bahan makanan jaman sekarang, sambatan tidak lagi semurah jaman dulu. Dapat dibayangkan, setiap pelaksanaan sambatan tidak dapat diprediksikan berapa jumlah tenaga yang datang membantu. Akan tetapi dapat dipastikan, bahwa pemilik rumah akan menyiapkan makanan dengan porsi ‘cukup’.

Ketika disediakan cukup, bisa jadi tenaga yang datang berlebih. Akibatnya, pelaksanaan pekerjaan sambatan menjadi kurang efektif. Ketika disediakan porsi lebih, bisa jadi tenaga yang datang hanya sedikit. Akibatnya, penyelesaian pekerjaan bisa jadi tertunda. Maka, ketika ada sebuah sambatan, jangan berpikir tentang efektivitas ataupun efisiensi. Bagi warga desa, nilai sosial ketika sambatan dilaksanakan itulah poin pentingnya….

~!@#$%^&*()_+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s