Angon Mongso. Democratization in Village


Angon Mongso consist of two words, angon and mongso. Angon means shepherd and mongso means season. If shepherd and season interpreted as one, it has no meaning. Mongso has association on the meaning of time. The word “angon mongso” is the Java language idiom which means “to find the right time to act”.
For villager in Java, angon mongso is not an act of fear. It is a form of strategy in order to achieve a more luminous result, because every action calculated carefully.
In the context of communication, angon mongso can be seen as a form of communication ethics, which targeted for receiver (recipient of the message). Good message would fail to understand by receiver if the transmitter (the messenger) is not angon mongso.
In cities, communication happens so smoothly. The influence of information technology gives freedom in people communication. The urban community accustomed to debate each other. Freedom of communication in cities is a form of democratization.
Democratic movement in the village is not as fast as in the city. Villagers feel the need ‘angon mongso’ to express their opinions or to counter the opinions of others.
Similarly, what happened in our village, the situation of the meetings that we do is:
1. Some of the initial meeting, there was no response. It was silent.
2. There is a slight difference at the end of the next meeting. The coordinator was chosen and the attedant agree.
3. The subsequent meetings, the attedants started to ask something.
4. The next meeting, the attedants dared to express opinions.
5. The next meeting , the attedant dared to dissent.
6. The next meeting,  the attedant dared to counter the opinions of others.
The ideal of democracy can not be imposed, even by the pioneer of organization. Angon mongso is an expression of democratic maturity that slowly but surely. Not only for members, the pioneer need ‘angon mongso’ against their members. Maturity democracy such as this, we believe will be more beautiful than the democracy which imposed to the people.

 

====================Angon Mongso: Demokratisasi ala Desa=====================

Angon = menggembala, mongso = musim. Jadi kalau angon mongso diartikan sebagai menggembala musim ya tidak ada artinya. Pengertian mongso tersebut berasosiasi pada makna waktu. Kata tersebut merupakan idiom bahasa jawa yang artinya mencari waktu yang tepat untuk bertindak.

Bagi orang desa (Jawa) angon mongso bukanlah sebuah ketakutan bertindak. Ia lebih merupakan bentuk strategi agar supaya mencapai hasil yang lebih gemilang, karena setiap tindakan diperhitungkan secara matang.

Dalam konteks komunikasi, angon mongso dapat dilihat sebagai bentuk etika berkomunikasi…dengan target utamanya adalah pemahaman komunikan (penerima pesan). Pesan yang baik, gagal dipahami komunikan jika komunikator (penyampai pesan) tidak angon mongso.

Di kota-kota, komunikasi sedemikian lancar. Pengaruh teknologi informasi, masyakarakat yang lebih heterogen berperan besar dalam kebebasan berkomunikasi. Masyarakat kota terbiasa dengan debat dan sejenisnya. Kebebasan komunikasi seperti ini merupakan bentuk pembelajaran demokratisasi (meski kadang itu dipaksakan oleh politisi).

Lain halnya dengan di desa, demokrasi tidak secepat gerakan di kota. Masyarakat desa masih merasa perlu ‘angon mongso’ untuk menyampaikan pendapatnya atau mengkonter pendapat orang lain.

Demikian pula yang terjadi di desa kami, situasi pertemuan-pertemuan yang kami lakukan adalah:

  1. Beberapa pertemuan awal, tidak ada tanggapan…sunyi senyap.
  2. Pertemuan-pertemuan berikutnya hanya beda di akhir acara…ada koor SETUJU!
  3. Pertemuan-pertemuan selanjutnya, mulai berani tanya ini itu.
  4. Pertemuan berikutnya mulai berani mengemukakan pendapat.
  5. Pertemuan selanjutnya mulai berani berbeda pendapat.
  6. Pertemuan berikutnya mulai berani mengkonter pendapat orang lain.

Demokrasi yang ideal tak dapat dipaksakan, bahkan oleh inisiatornya sekalipun. Angon mongso merupakan ekspresi kedewasaan berdemokrasi yang pelan namun pasti. Tidak hanya anggota, inisiatorpun perlu ‘angon mongso’ terhadap anggotanya. Kedewasaan demokrasi yang seperti ini, kami yakini akan lebih cantik daripada demokrasi yang dipaksakan…..dan itu kami raih setelah melewati banyak pertemuan…..

~!@#$%^&*()_+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s