Honesty and Transparency Of Farmers and Traders


Yesterday, short message service (sms) was coming into my inbox. It was coming from Ipung. She ordered fruits as souvenirs for her families who came to Yogyakarta. She wanted to come to Kelor but worried about the time because it was already dusk. Thus, she sent sms to me and the order would be taken next morning.

I passed on the order to my neighbour. His name is Misroji, a young man who works as a salak pondoh farmer.

Next morning, Ipung came to see Misroji. The order had not packed yet. There was a conversation between buyer and seller.

Ipung: This salak, Sir?

Misroji: Yes Ma’am.

Ipung: Why didn’t you pack the salak?

Misroji: I didn’t pack the salak yet because I wanted you to see the goods (while preparing the scales).

Ipung: Okay. What do you do after this?

Misroji: I wanted to weigh the salak, check out the scales.

Ipung: I trust you. You don’t have to weigh the salak. Please, hurry!

Misroji: Okay. Please, choose the package. If the box is not enough, how about disposable sack?

Ipung: That’s okay, because I’m in hurry. Hap hap hap.

After the package done, Misroji whispered to me, “I didn’t pack the salak because I think the buyer would be more stable if the salak weighed before packed.’ I answered, “Yes I know. But, she is in hurry”.

The attitude is common to  Misroji all citizens Kelor. Farmers, which sometimes doubles as a trader, showed the goods and weighed them in front of the buyer. The attitude is a value honesty and transparency. If you ordered salak to our citizens, please add more time for checking the items and scales – especially when you in a hurry.

===============Jujur & Transparan versi Petani (sekaligus Pedagang)================

Sebuah sms yang masuk ke inbox saya kemarin sore. Ternyata dari seorang teman (namanya Ipung) yang memesan buah salak untuk oleh-oleh keluarganya yang datang ke Jogja. Dia ingin datang ke Kelor tetapi khawatir waktunya tidak memungkinkan karena hari sudah menjelang senja. Jadilah ia kirim sms ke saya dan pesanan akan diambil pagi berikutnya.

Saya meneruskan pesanan tersebut ke tetangga (namanya Misroji), seorang pemuda Kelor yang berprofesi sebagai petani salak pondoh – beres pikir saya.

Pagi harinya Ipung datang ke saya dan saya antar langsung ke Misroji. Pesanan salak ternyata belum dipacking.  Dan terjadilah percakapan antara pembeli dan penjual berikut:
Ipung:         ini salaknya mas?

Misroji:       iya mbak.

Ipung:         kok belum dipacking mas?

Misroji:       memang belum mbak, saya nunggu mbaknya supaya dilihat dulu barangnya (seraya menyiapkan timbangan).

Ipung:         mau diapakan lagi mas?

Misroji:       mau ditimbang, mbaknya ngecek dulu timbangannya berapa!

Ipung:         percaya saja mas gak usah ditimbang, saya buru-buru.

Misroji:       oh ya… packingnya pakai apa? Kalau pakai kardus nggak cukup satu, pakai karung gimana mbak?

Ipung:         nggak apa-apa, udah cepetan…hap…hap…hap…

Setelah semua selesai, Misroji berbisik pada saya ‘sengaja belum saya packing supaya dilihat dulu barangnya dan pembeli akan lebih mantap kalo lihat ditimbang sebelum dipacking.’ ‘Ya saya mengerti, tapi dia terburu-buru’, jawab saya.

Sikap seperti Misroji umum dilakukan seluruh warga Kelor. Bagi petani (yang kadang-kadang merangkap sebagai pedagang), memperlihatkan barang dan menimbang di depan pembeli adalah sebuah nilai kejujuran dan transparansi. Jadi kalau memesan salak kepada warga kami, tambahkan waktu untuk sekedar ngecek barang dan timbangannya – apalagi kalau terburu-buru.

 ~!@#$%^&*()_+

Advertisements

2 thoughts on “Honesty and Transparency Of Farmers and Traders

  1. Wah….makin laris aja jualan salak dirumah halaman ku…..

    semoga aja desa kelor lebih maju lagi…..
    oh ya mas, kemarin kan ada jatilan thu di joglo, thu dikasetkan g ya mas?

    1. terima kasih untuk harapan dan doanya. ada CD jathilan tapi bukan yang pentas di Joglo kemarin. sila hubungi melalui nomor kontak kami. terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s