Trade Principles of Public Kitchen


This is a story about the other situation of our public kitchen. Activities in public kitchen done by housewives, young women, and even children. Our public kitchen  have section of consumption is a flashy positions as chef and assistant chef if it was in a hotel. The position performed by Rohaniah and Sunarti. As a chef they are preoccupied with consumption every guest who orders a diverse menu and order quantity. They also should take into account the timeliness and ensure a presentational. The activities will increase sharply if guests ordered a special menu (customized). Guests position as king, often occupy our chef before and after the arrival of guests. It is not impossible that the activities of reducing recess housewives. Many times they have to ‘overtime’ till ten or eleven o’clock at night and then wake up again at two or three in the morning. Public kitchen activities are like a catering services. There is a cooking activity, preparation of food and of course, the money circulation. Concerning the money circulation, our chef does not complain about profit or loss as well as catering services. One day, our chef said: ‘among us (housewives) never was involved in guest services at the river. We feel the weight of the task as a guide on the river. We think our activities during the break time is still balanced with the physical exhaustion guide. Therefore, we still provide guide consumption supply in accordance with its number. In our opinion, the trade principle can not apply fully to ‘urusan perut. Moreover, the principle of this organization is mutual cooperation. Many hands make light work. Trying to feel what other people do, will make us organize wiser

=======================Prinsip Dagang Dapur Umum===========================

Ini adalah cerita tentang situasi dapur umum kami yang lain dengan situasi lapangan. Aktivitas di dapur umum dilakukan oleh ibu-ibu, para remaja putri bahkan anak-anak. Di dapurpun kami punya seksi konsumsi – sebuah jabatan yang mentereng dengan sebutan chef dan asisten chef kalau itu di sebuah hotel. Jabatan tersebut diemban oleh Rohaniah dan Sunarti.

Sebagai chef mereka disibukkan dengan pesanan konsumsi setiap tamu sesuai dengan ragam menu dan jumlah pesanan. Merekapun harus memperhitungkan ketepatan waktu dan memastikan tempat penyajian. Kesibukannya akan meningkat tajam jika tamu memesan menu khusus (customized). Posisi tamu sebagai raja, seringkali menyibukkan chef kami sebelum maupun sesudah kedatangan tamu. Bukan tidak mungkin kalau kesibukan tersebut mengurangi jam istirahat para ibu-ibu. Berkali-kali mereka harus ‘lembur’ sampai jam sepuluh atau jam sebelas malam untuk kemudian bangun lagi pada jam dua atau tiga pagi.
Kesibukan dapur umum tak ubahnya seperti jasa catering. Ada aktivitas masak-memasak, penyiapan makanan dan tentunya perputaran uang.

Menyangkut perputaran uang, chef kami tak mempersoalkan untung maupun rugi sebagaimana jasa catering. Penuturan chef kami suatu ketika: ‘diantara kami (ibu-ibu) pernah ada yang terlibat dalam pelayanan tamu di sungai. Kami merasakan beratnya tugas menjadi pemandu di sungai. Kesibukan kami pada jam-jam istirahat masih kami pandang seimbang dengan kelelahan fisik para pemandu. Oleh karenanya, kami tetap menyediakan supply konsumsi pemandu sesuai dengan jumlah yang ada. Menurut kami, prinsip dagang tidak bisa diterapkan sepenuhnya untuk urusan perut. Apalagi organisasi ini asasnya adalah gotong royong.’

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Mencoba merasakan apa yang dilakukan orang lain, akan membuat kita lebih bijak berorganisasi.

~!@#$%^&*()_+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s