Black, White, and Gray


The construction of roads leading to the tomb has not been resolved at the end of June 2012. So, the citizen in our village held a meeting to discuss the continuation of the development. During the meeting, it was agreed that the completion of construction is expected to spur a lot of residents who attend follow mutual cooperation. For residents who can not attend the event mutual cooperation will be fined Rp 50,000 per day.

In conditions of certainty, the application of such fines would be easily done. Like the color, black and white easily determined. The first situation: do not set out gotong royong (black areas) be fined according to the agreement. The second situation: to set out gotong royong (white area) are not penalized.

However, is there anything certain in everyday life? In fact, when the mutual aid there are people who can not be involved in a full day. There is also involved in a full day but not effectively follow gotong royong – who will be forced residents elderly ‘powered’ gotong royong full time? This situation is a third situation – meaning that there is always a gray area to enforce agreements (regulation).

Against the third situation, whether fines necessarily apply to citizens? Apparently not. The issue is not as difficult, because these conditions (if you like) can be anticipated from the outset. But the meeting did not mention the issue of citizens. Residents of the village, is expecting attendance at mutual help. In each gotong royong (full day) there is always working together, joking, Wedangan (breaks), rolasan (lunch)… togetherness in everything that is desired. Really heavy hands make light work…

===================================

Hitam, Putih dan Abu-Abu

Pembangunan jalan menuju makam belum juga terselesaikan pada akhir Juni 2012. Wargapun mengadakan pertemuan untuk membahas kelanjutan pembangunan tersebut. Dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa untuk memacu penyelesaian pembangunan diharapkan banyak warga yang hadir mengikuti gotong royong. Untuk warga yang tidak dapat hadir pada acara gotong royong akan dikenakan denda Rp 50.000 per hari.

Dalam kondisi yang pasti, penerapan denda tersebut akan dengan mudah dilakukan. Ibarat warna, hitam putih dengan mudah ditentukan. Situasi pertama: yang tidak berangkat gotong royong (wilayah hitam) dikenakan denda sesuai kesepakatan. Situasi kedua: yang dapat berangkat gotong royong (wilayah putih) tidak dikenakan denda.

Namun demikian adakah yang pasti dalam kehidupan sehari-hari? Kenyataannya, saat gotong royong ada warga yang tidak dapat terlibat sehari penuh. Ada pula yang terlibat sehari penuh tetapi tidak efektif mengikuti gotong royong – siapa yang akan memaksa warga berusia lanjut ‘bertenaga’ penuh saat gotong royong? Situasi ini merupakan situasi ketiga – artinya selalu ada wilayah abu-abu untuk menegakkan kesepakatan (peraturan).

Terhadap situasi ketiga tersebut, apakah denda serta merta diterapkan warga? Ternyata tidak. Persoalannya bukan karena kesulitan, karena kondisi tersebut (jika mau) dapat diantisipasi sejak awal. Akan tetapi pertemuan warga tidak menyinggung masalah tersebut. Warga desa, lebih mengharapkan kehadiran saat gotong royong. Dalam setiap gotong royong (sehari penuh) selalu ada kerja sama, senda gurau, wedangan (rehat), rolasan (makan siang)…kebersamaan dalam segala hal itulah yang diinginkan. Benar-benar berat sama dipikul, ringan sama dijinjing…..

~!@#$%^&*()_+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s