21an (Selikuran)


Selikur is the name for the
numbers 21 (twenty one). While selikuran is an event which only exists during the fasting month. Start from day 21 until the end of the fasting month, some people believe that one night was a night of Lailatul Qodar.

In response to that belief, the rural muslim community do the syukuran. Syukuran is tradition to show our gratitude to God. For a family celebration, syukuran  usually done alternately. However, for syukuran within the scope of village,  usually carried out at night to 21 (20th day of fasting afternoon/evening).

In the past, each family make kenduri for selikuran event.  Kenduri is tradition where people give out foods to their neighbour.  Some family might make more than one kenduri. Then they read out prayer before they exchanged kenduri.

As the time past passed people realized that the tradition is not even efective and inefficient. Because there would always be leftovers from this tradition.

And then they start to think of a way to make kenduri more efficient. So they agreed that only half of the families were responsible to make kenduri. The other half will pay the dues. Then the dues can be collected and used for other needs.

==========================================================================

Selikur adalah sebutan untuk angka 21 (duapuluh satu). Sedangkan selikuran adalah peristiwa yang hanya ada pada saat bulan puasa. Mulai hari ke-21 – akhir bulan puasa, sebagian masyarakat percaya bahwa salah satu malamnya adalah malam lailatul qodar.

Menyikapi hal tersebut, umumnya masyarakat muslim pedesaan melakukan syukuran (dan harapan). Untuk syukuran keluarga biasanya dilakukan secara bergantian. Akan tetapi untuk syukuran tingkat kampoeng, umumnya dilakukan pada malam ke-21 (puasa hari ke-20 sore/malam).
Dulu, setiap keluarga membuat kenduri pada acara selikuran kampoeng. Oleh karena merupakan syukuran, ada saja keluarga yang membuat kenduri lebih dari satu. Selanjutnya kenduri tersebut dipertukarkan setelah dibacakan doa dalam acara selikuran  – mirip dengan pesta kebun di sekolah.

Lama-kelamaan warga menyadari, format tersebut mungkin efektif tapi tidak efisien sama sekali. Bagaimana tidak? Setiap keluarga membawa pulang kenduri lagi, bahkan  ada kendurian yang tidak dimanfaatkan (terbuang) karena ada yang membuat kenduri lebih dari satu.

Tahap berikutnya terpikir untuk mengefisienkan acara kendurian kampoeng. Jika dahulu setiap keluarga membuat kenduri, akhirnya disepakati hanya dibuat oleh separuh keluarga dan masing-masing membuat 2 buah. Separuh keluarga yang lain cukup membayar iuran. Hasil iuran tersebut dikumpulkan sebagai kas kampoeng yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan apapun.

Kesepakatan ini sudah berjalan dalam beberapa dekade terakhir dan berlaku untuk kendurian lain (dalam setahun, di Kelor ada 6x kendurian). So…..

  1. Terjadi learning effect pada masyarakat pedesaan (lebay kalau ada yang bilang tidak),
  2. Kemampuan warga membuat kendurian dan membayar iuran kampoeng meragukan pernyataan yang disounding para politisi tentang kemiskinan (minimal di kampoeng kami)…..ayo kendurènan menèh…..

~!@#$%^&*()_+

Advertisements

One thought on “21an (Selikuran)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s