Spirit dibalik Sejumput Serundèng


Di Kelor, ada pasangan kakek – nenek (Sjaean – Anjariyah) yang mempertahankan tradisi lebaran dengan menyajikan makanan yang nyempal dari pakem lebaran. Jika lebaran identik dengan tradisi kupat (ketupat) lebaran, mereka memilih makanan khas lebaran berupa serundèng.

Serundèng merupakan makanan yang terbuat dari kelapa muda yang dicampur dengan daging kicik sapi. Dimasa kecil beliau, makanan ini hanya tersedia pada saat ada hajatan atau lebaran. Oleh karena bahan bakunya terbilang mahal, dahulu makanan ini hanya dapat disajikan kalangan berada. Sekarang, kemajuan jaman memungkinkan setiap orang dapat menyajikan serundèng, akan tetapi kemajuan jaman pula yang tidak memungkinkan setiap orang sanggup mengolah ‘serundèng’.

Nilai eksotis sejumput serundèng ada pada cara pengolahannya yang cukup menyita waktu. Untuk mengolah serundèng, kelapa muda yang telah diparut kasar dicampur dengan aneka bumbu dapur kemudian digongso di atas api kecil sampai matang. Untuk menggongso serundèng diperlukan waktu lama dan tenaga ekstra, karena adonan serundèng terus diaduk sampai matang (berwarna kuning kecoklatan) selama di atas api. Sebutir kelapa bisa memakan waktu 1 – 1,5 jam untuk membuat serundèng. Hasilnya, serundèng  yang lemas (orang jawa menyebutnya dengan memes) dan terasa sangat gurih di lidah. Selanjutnya serundèng dicampur dengan daging sapi yang telah diolah kicik. Variasi lain yang tak kalah lezatnya adalah dicampur dengan ketan.

Bagi nenek Anjar, serundèng daging kicik sapi merupakan nostalgia masa kecil. Di lidah beliau, tak ada rasa serundèng yang mengalahkan olahannya – karena proses pengolahannya tidak lagi eksotis sebagaimana standar olahan beliau (sekarang, kebanyakan serundèng di pasaran diolah dengan cara dioven). Menurut penuturan kakek Sjaean, anak-anak jaman sekarang jadi kurang mengerti standar pengolahan makanan serundèng. Padahal, ada nilai khusus dari sejumput serundèng, bahwa ada proses rumit untuk menghasilkan serundèng bercita rasa tinggi. Muatan spirit yang ada adalah: tak ada yang instan, diperlukan kerja keras dan kerja cerdas untuk mencapai kesuksesan.

Adakah yang berminat mencicipi serundèng olahan beliau? Jika beruntung, di hari raya lebaran 2012 ini masih bisa didapatkan pada hari kelima saat kampoeng Kélor punya acara Bõdõ nèng nDéso…..

~!@#$%^&*()_+

Advertisements

3 thoughts on “Spirit dibalik Sejumput Serundèng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s