‘Ujung’


Beberapa dekade terakhir, muncul tradisi syawalan di kota maupun desa – tak terkecuali di Kelor. Kalau dihitung malah dilakukan beberapa kali. Pertama, saat mengumpulkan zakat fitrah pada malam menjelang idul fitri. Kedua, setelah selesai sholat idul fitri. Ketiga, acara syawalan dusun.

Tak ada yang salah dengan tradisi tersebut, akan tetapi tradisi ‘ujung’ ikut berubah. ‘Ujung’ yang semula dilakukan door to door secara personal atau kelompok kecil, kini dilakukan secara massal di tempat umum seperti masjid, aula dan tempat rekreasi.

Kata ‘ujung’ dalam bahasa jawa berkonotasi dengan lebaran, makna harfiahnya sama dengan silaturahmi. Makna yang lebih mendalam adalah ikrar permohonan maaf. Beberapa kata kunci yang biasa disampaikan pada saat ‘ujung’ adalah:

  1. Maksud kedatangan (silaturahmi),
  2. Ucapan selamat hari raya (lebaran),
  3. Ikrar permohonan maaf,
  4. Mohon doa restu.

Tampaknya sederhana dan mudah, kenyataannya banyak orang perlu dilatih sejak usia belia. Karena, ‘ujung’ tentu disampaikan dengan rangkaian kata-kata yang tersusun rapi dan indah – itu yang kasat mata. Yang tak kasat mata adalah pelajaran budi pekerti berupa sikap saling menghormati, bertutur kata dengan santun dan memperkuat ikatan emosional. Peristiwa ‘ujung’ memberi kita sebuah pelajaran berbudaya.

Meskipun ada syawalan, namun acara tersebut tidak menyurutkan warga Kelor untuk melakukan ‘ujung’ kepada sanak saudara dan sesepuh dusun. Ada yang berminat ikut tradisi ‘ujung’ di kampoeng kami?

~!@#$%^&*()_+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s