Ngedus Jaran


IMG_4161r

Ngedus jaran is a reference to the ritual of bathing Jathilan horse. It is usually done by Showtime and performed in Beling (springs) or Tempuran (2 meetings creeks). Jathilan group art, Sekar Manunggal usually do it in Cuwo – a spring located in Bedok river.

Actually, this ritual is not only do by the Jathilan art group. Other arts groups that involving ‘other world’ almost all do the same ritual. A ritual is done by chanting incantation when bathing the Jathilan horse. The ritual is also prepared a variety of materials such as incense, flowers and perfume. it is needed to invite ‘the others’ and make ‘them’ appear in the stage.

The purpose of ngedus jaran is to make ‘the others’ come in a good shape and play with totality. So you should not make hasty judgments Ngedus Jaran as shirk. The simple explanation of the purpose of the ritual is simply to understand their views on the ‘other world’. Simple view can only be understood by the simple thought: is’nt the totality also needed when we do anything (including performing Jathilan)?

==========================================================================

Ngedus jaran adalah sebutan untuk ritual memandikan kuda lumping. Ritual tersebut biasa dilakukan menjelang pementasan. Ritual biasanya dilakukan di sebuah Belik (mata air) atau Tempuran (pertemuan 2 anak sungai). Kelompok kesenian jathilan Sekar Manunggal biasa melakukannya di belik Cuwo – sebuah mata air di sungai Bedog.

Sebenarnya, ritual seperti ini tak hanya dilakukan kelompok seniman kuda lumping. Kelompok kesenian lain yang melibatkan ‘dunia lain’ hampir semua melakukan ritual yang sama.

Prosesi ritual yang dilakukan adalah merapal mantra – memandikan kuda lumping – bersemedi. Dalam ritual tersebut juga disiapkan berbagai macam uborampe seperti kemenyan, kembang dan minyak wangi. Sarana ini diperlukan untuk ‘mengundang mereka’ datang dan ikut ‘tampil dalam pentas’. Adapun maksud ngedus jaran adalah ‘mereka’ tampil dalam keadaan segar bugar dan ‘bermain dengan totalitas’.

Jadi sebaiknya tak terburu-buru menghakimi ngedus jaran sebagai perbuatan syirik. Penjelasan sederhana atas maksud melakukan ritual ini, cukup untuk memahami pandangan mereka tentang ‘dunia lain’. Pandangan sederhana hanya dapat dipahami dengan cara berpikir sederhana: bukankah totalitas sebenarnya juga diperlukan dalam melakukan apapun (tak terkecuali pementasan jathilan)?

~!@#$%^&*()_+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s