Dingkel


IMG_5941er

Dingkel  is a javanese term for ‘stove’. Dingkel typically used to keep the flame stays lit during cooking.

In the first place dingkel were made from clay and it has various sizes and shapes. Now, as the time passed, dingkel is made out of cement mold because these days it is increasingly difficult to get the good quality of clay to make dingkel. Various Types of dingkel are 1 pit dingkel (stove), 2 pit dingkel, 3 pit dingkel.

By using 2 – 3 pit dingkel, cooking process can be done faster compared to dingkel with 1 pit only. Firewood is used to fuel up dingkel. When cooking using firewood, the flame isnt as stable as it would using modern stove.

So to overcome that problem villagers usually blow the fire to keep it lit using semprong. Semprong is a piece of bamboo that is used to blow the fire in order to keep them lit.

For those who are food lovers, cooking using dingkel usually elevate the taste of exoticism of the food itself. Thats what we offer through our exoticism of taste. So come and taste our food yourself.

Dingkel adalah sebutan untuk tungku dalam bahasa jawa, kegunaannya untuk memasak. Fungsi dingkel adalah untuk menjaga api agar tetap menyala.

Awalnya dingkel dibuat dari tanah liat dengan berbagai ukuran dan model. Seiring perkembangan jaman dan sulitnya memperoleh bahan baku yang berkualitas, dingkel sekarang dibuat dengan cetakan semen.

Model dingkel masih sama sejak dahulu sampai sekarang, yaitu model 1 (satu) lobang, 2 (dua) lobang dan 3 (tiga) lobang. Keunggulan dingkel berlobang 2 atau 3 adalah panas yang dapat dimanfaatkan untuk panci memasak yang lain. Dengan demikian, memasak dapat dilakukan secara paralel.

Memasak dengan dingkel hampir bisa dipastikan menggunakan kayu bakar. Berbeda dengan bahan bakar sekam/briket batu bara, memasak dengan kayu bakar agak direpotkan dengan nyala api yang kurang stabil. Sesekali harus ditiup dengan semprong (potongan bambu) agar api tetap menyala.

Bagi penggemar kuliner, mengkonsumsi masakan yang diolah dengan dingkel dan kayu bakar justru memiliki eksotisme tersendiri. Jika peka, ada sedikit rasa sangit yang menyertai rasa masakan. Eksotisme ala desa itulah yang kami tawarkan melalui dapur umum.

~!@#$%^&*()_+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s