The Real Champion


Juara I Kategori A

On 27th April 2014, Dusun Kelor held a painting competition for district Sleman to commemorate Dusun Kelor’s birthday and Nasional Education Day with ‘The Beauty of Merapi Downhill Village’ as the theme. The selected theme had special meaning for us who live in Merapi downhill. Publication for the competition was too short, so we only had 90 competitors who were elementary students from first to sixth grade. There were three categories in this competition, there were Category A : first to second grade, Category B : third to fourth grade, Category C : fifth to six grade.

Each competitor made an amazing painting that made judges confused to determine the winner for each category. The aspects of assesment were not only about the beauty of the painting, but also the message of the painting. So, we invited three judges from different field. They are an artist, a teacher, and a psychologist.  It took a long time for judges to choose the best. The result were surprising because the winners in each category didn’t have significant scores.

Another surprise came from the winner of Category A who was a kindergarten. It made all people, especially the mother of the winner were surprised by the result. The parents seemed dissapoint against the result. In a competiton, there is always a winner and a looser. But, can we say that in this National Education Day?

=============================Juara Sejati ===================================

Memperingati ulang tahun desa wisata dan hari pendidikan nasional, pada tanggal 27 April 2014 kami mengadakan event lomba lukis sekabupaten Sleman dengan tema ‘Pesona Desa Lereng Merapi’. Pilihan tema ini terasa fit dengan keberadaan gunung api Merapi yang memberikan sensasi ‘ngeri-ngeri sedap’ bagi warga sekitarnya.

Publikasi lomba yang singkat (sekitar 2 minggu) terasa kurang, sehingga hanya ada 90an peserta. Jumlah itu terdiri atas peserta dari kelas 1 SD – 6 SD. Dengan demikian cukup mewakili 3 kategori yang kami lombakan, yaitu kategori A untuk kelas 1 – 2 SD, kategori B untuk kelas 3 – 4 SD dan kategori C untuk kelas 5 – 6 SD.

Yang tak terduga adalah kesulitan juri dalam menentukan pemenang lomba pada setiap kategori. Karya-karya peserta membuat juri harus lebih banyak mendiskusikan hasilnya. Meskipun akhirnya terpilih karya pemenang lomba, selisih nilai tidaklah signifikan.

Kejutan lain adalah pemenang kategori A ternyata masih sekolah TK – kemenangan yang mengejutkan bagi para orang tua khususnya ibu pemenang. Bagi para orang tua, keterkejutan tersebut bisa berarti 2 hal: kecewa atau bersuka cita. Kita bisa saja mengatakan ‘begitulah lomba, ada pemenang maupun pecundang’. Tapi tepatkah pernyataan seperti itu, sedangkan lomba ini dalam rangka hari pendidikan nasional?

Kompetensi kami bukan dalam hal seni (lukis), jadi kami menunjuk 3 orang juri yang terdiri atas pendidik, seniman dan psikolog. Dimulai dari pertanyaan mendasar ‘gambar bagus itu yang seperti apa?’ Disadari atau tidak, ada kesenjangan pemahaman ‘gambar bagus’ antara kita dengan dewan juri…dan di sanalah peserta lomba berkarya.

Teknik melukis hanyalah salah satu aspek dalam menentukan lukisan bagus/tidak. Aspek penting lainnya adalah ruh lukisan itu sendiri: manusianya, ekspresinya, ragam aktivitas dan perspektifnya. Yang sering kita lupakan adalah otentisitas lukisan/gaya yang natural. So… proses lomba yang dilalui peserta diyakini menghasilkan juara sejati. Yang lain, meski belum memenangkan lomba, tetapi mereka adalah ksatria sejati.

 ~!@#$%^&*()_+

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s