Apresiasi… Eksplorasi… Edukasi…

IMG_9116r
IMG_2466r
IMG_2466r
Photo0069r
IMG_0340r

Latest

Angon Mongso: Demokratisasi ala Desa

Angon = menggembala, mongso = musim. Jadi kalau angon mongso diartikan sebagai menggembala musim ya tidak ada artinya. Pengertian mongso tersebut berasosiasi pada makna waktu. Kata tersebut merupakan idiom bahasa jawa yang artinya mencari waktu yang tepat untuk bertindak.

Bagi orang desa (Jawa) angon mongso bukanlah sebuah ketakutan bertindak. Ia lebih merupakan bentuk strategi agar supaya mencapai hasil yang lebih gemilang, karena setiap tindakan diperhitungkan secara matang.

Dalam konteks komunikasi, angon mongso dapat dilihat sebagai bentuk etika berkomunikasi…dengan target utamanya adalah pemahaman komunikan (penerima pesan). Pesan yang baik, gagal dipahami komunikan jika komunikator (penyampai pesan) tidak angon mongso.

Read the rest of this page »

Peremajaan Tanaman Salak

Pohon salak termasuk jenis tanaman palma. Di sepanjang batang pohon, dapat tumbuh akar serabut. Semakin dewasa sebuah tanaman, akar mengikuti pertumbuhan tanaman tersebut.

Karakteristik seperti ini memudahkan peremajaan tanaman agar produktivitas tetap terjaga. Untuk tanaman salak, umumnya dilakukan pada umur 10 tahun. Caranya adalah sebagai berikut:

  1. Siapkan cangkokan menggunakan ember.
  2. Tunggu sampai tumbuh akar (± 2 bulan).
  3. Potong di bawah cangkokan.
  4. Lepaskan ember.
  5. Tanam di tanah yang telah disiapkan pupuk (kandang/organik).

Anda memiliki tanaman berakar serabut? Cara tersebut mungkin dapat dilakukan. Hati-hati dengan tanaman kesayangan anda karena tidak semua tanaman berakar serabut dapat dilakukan pencangkokkan. Atau anda mau mempraktikkannya di Kelor? Kami siap membantu anda mempraktikkannya.

~!@#$%^&*()_+

Gotong Royong, Kurang Kerjaan?

Mulai tanggal 15 Februari 2012 kemarin, warga Kelor melaksanakan gotong royong setiap hari Rabu dan Kamis. Adapun gotong royong yang dilaksanakan kali ini adalah pengerasan jalan menuju makam.

Selain menuju makam, jalan tersebut mengarah ke beberapa kebun milik warga. Dapat dikatakan, mobil tidak pernah melalui jalan ini, karena tanahnya agak gembur (menyulitkan kendaraan yang lewat).

Frekuensi yang paling sering, digunakan warga menuju kebun salak. Yang berikutnya digunakan warga untuk menuju makam, baik gotong royong membersihkan makam maupun pemakaman orang meninggal.

Orang kota mungkin bertanya-tanya, apakah biaya pengerasan jalan tersebut seimbang dengan manfaat yang diperoleh? Tapi warga desa punya jalan pikiran berbeda. Mereka selalu punya alasan untuk bersosialisasi dengan warga lainnya. Salah satunya adalah kerja bakti…

~!@#$%^&*()_+

Kesahajaan dalam Pemberian Nama

Hari kedua festival seni tradisi di Kaliurang 28 – 29 Januari 2012. Dari 35 Desa Wisata yang di undang untuk tampil dalam festival tersebut, hanya diikuti 12 desa wisata. Sebanyak 8 desa wisata telah tampil pada hari pertama.

Pada hari kedua tampil 4 desa wisata, masing-masing adalah Desa Wisata Tanjung dengan kesenian ‘Pek Bung’, Desa Wisata Rumah Domes dengan kesenian ‘Ronda Tek-Tek’, Desa Wisata Kelor dengan kesenian ‘Klenthingan’ dan terakhir Desa Wisata Jethak 2 dengan kesenian ‘Gejog Lesung’.

Read the rest of this page »

Nilai Sosial Sambatan, bukan Efektivitas ataupun Efisiensinya

Sambatan berasal dari akar kata sambat, yang artinya mengadu. Bagi orang Jogja – terutama warga desa, kata sambatan merupakan istilah yang digunakan untuk gotong royong.

Istilah ini mempunyai makna khusus karena hanya cocok ditujukan untuk gotong royong warga dalam membangun rumah. Jadi tidak setiap gotong royong menggunakan istilah sambatan. Untuk gotong royong memperbaiki jalan fasilitas umum lainnya, istilah gugur gunung lebih populer digunakan.

Setiap pelaksanaan sambatan, pemilik rumah (yang punya gawé) tidak perlu memberikan kompensasi pada tenaga kerja. Namun mereka umumnya menyediakan makan minum seadanya.

Read the rest of this page »

Mental Juara, Meski Belum Juara

26 Desember 2011, kami mengikuti lomba masak antar desa wisata sekabupaten Sleman. Lomba dilaksanakan di Kaliurang, sebuah tempat wisata alam di lereng merapi. Materi yang dilombakan ditekankan pada potensi kuliner masing-masing dengan bahan-bahan lokal.

Lomba diikuti 14 desa wisata dari 35 desa wisata yang ada di kabupaten Sleman. Setiap peserta mengirimkan tim sebanyak 5 orang. Usaha untuk menang, sudah pasti dilakukan semua peserta termasuk kami. Dengan kepercayaan diri masing-masing setiap peserta mengerahkan segenap kemampuan dan potensi yang dimilikinya.

Tiba saat penentuan pemenang, hanya 3 peserta yang mendapat nomor. Mereka adalah desa wisata Kembang Arum (Dewi Kembar) sebagai juara pertama, dan desa wisata Kaliurang Timur sebagai juara kedua dan ketiga. Kesebelas tim peserta yang lain dipastikan tidak mendapat nomor.

Read the rest of this page »

Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata

Ini merupakan kekayaan bahasa jawa yang tak terakomodasi huruf latin. Dalam bahasa jawa, penulisan huruf vokal a/bunyi antara o & a menggunakan huruf yang sama. Untuk variasi bunyi huruf vokal yang lain seperti i/u/e juga menggunakan huruf yang sama, dengan ‘sandangan’ (tanda baca) yang berbeda. Jangan sampai salah membaca kalimat tersebut, bisa tak berarti ataupun berarti lain.

Huruf a pada ungkapan di atas dibaca dengan posisi bibir mengucapkan huruf ‘O’ tetapi yang dikeluarkan bunyi ‘A’. Maknanya adalah masing-masing tempat punya adat istiadat ataupun metoda yang berbeda dan diterima masyarakat setempat. Saya teringat ungkapan tersebut ketika mengunjungi desa wisata Plempoh di Prambanan 3 Oktober 2011 lalu. Read the rest of this page »

Sikap Merakyat Pak Mantan

Senin 29 Agustus 2011 dini hari, seorang warga kami membangunkan warga dusun dari rumah ke rumah untuk menyampaikan berita duka. Dikabarkan bahwa pak Mantan telah dipanggil Yang Maha Kuasa dalam usia 75 tahun. Pak Mantan bukanlah nama melainkan sebutan untuk bapak Dirjo Harjono. Di kampung, penggunaan sebutan profesi atau jabatan (seperti pak guru, pak lurah dll.) masih lazim digunakan daripada menyebut nama.

Ceritanya, dulu sebutan untuk pemimpin kampung adalah dukuh. Pada masa orde baru disebut dengan kepala dusun (Kadus). Sekarang diganti lagi dengan sebutan dukuh. Kedua pimpinan kampung kami (lama dan baru) mengalami penggunaan kedua sebutan tersebut. Untuk membedakan keduanya, kami menyebut pejabat lama dengan pak mantan, sedangkan sebutan untuk pejabat baru adalah pak dukuh.

Kami tak tahu apa perbedaan prinsip antara sebutan dukuh dan kepala dusun. Yang kami tahu negeri ini sok sibuk mengurus hal-hal yang tidak prinsip. Dan kejadian tadi malam, mengingatkan kami pada sikap teladan pak mantan semasa menjadi dukuh.

Read the rest of this page »

Syukuran Khataman Ramadhan 1432 H

Minggu 21 Agustus 2011 kami mengadakan syukuran di masjid Al Huda Kelor. Hari tersebut merupakan kali kedua kami khatam Al Qur’an selama bulan ramadhan 1432H. Tidak seperti ramadhan yang lalu, tadarus ramadhan kali ini juga diikuti oleh anak usia 10 tahun sebagai peserta termuda.

Pada kesempatan tersebut juga disampaikan infaq dari siswa magang beberapa hari sebelumnya. Diwakili oleh Ken Husnan Isard, infaq siswa magang SMP Budi Mulia Dua (SMP BMD) disampaikan langsung kepada bendahara masjid Aa Gyan. Terima kasih adik-adik SMP BMD, selamat untuk seluruh peserta tadarus ramadhan 1432H…..

 ~!@#$%^&*()_+

Sekolah Umum bernama Masyarakat

Sabtu 13 Agustus 2011 sore menjelang berbuka puasa. Masjid Al Huda Kelor mendapat kunjungan tamu siswa kelas 9 SMP Budi Mulia Dua. Jumlah tamu ada 3 orang, yaitu: Ken Husnan Isard, Rivanda Irawan dan Ahmad Faiz Ramadhan. Tempat tinggal Ken kebetulan berada satu halaman dengan masjid tersebut. Jadi kalau dibilang tamunya 3 orang tentunya tidak persis 3 orang.

Kehadiran ketiga siswa tersebut adalah untuk magang ramadhan. Magang merupakan program sekolah yang bertujuan melatih kepekaan sosial dan kemandirian. Adapun tema yang diangkat adalah ‘Pertebal Iman dengan Kegiatan Sosial”.

Dengan cara magang, siswa dapat merasakan dan menyelami dinamika yang ada di masyarakat. Pepatah mengatakan “kamu dengar kamu lupa, kamu lihat kamu ingat, kamu kerjakan kamu mengerti”.

Ada banyak cara untuk mengerti, dan magang hanyalah salah satu diantaranya. Maka yang terjadi adalah “sekolah mengasah kemampuan siswa berpikir logis, kritis dan analitis”. Pada sisi lain, masyarakat mengajarkan kehidupan. Keduanya berguna untuk memecahkan masalah.

Tradisi keduanya berbeda. Sekolah mengajarkan tradisi akademis, sedangkan masyarakat dengan realitasnya. Dapat dikatakan bahwa masyarakat merupakan sekolah umum. Tak ada istilah tamat untuk sekolah tersebut…. ada lagi yang berminat? Kami menyediakan fasilitas dengan program live in.

 ~!@#$%^&*()_+

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.