Apresiasi… Eksplorasi… Edukasi…

IMG_2466r
IMG_2466r
Photo0069r
IMG_0340r
IMG_0173r
IMG_0757r

Latest

Nilai Sosial Sambatan, bukan Efektivitas ataupun Efisiensinya

Sambatan berasal dari akar kata sambat, yang artinya mengadu. Bagi orang Jogja – terutama warga desa, kata sambatan merupakan istilah yang digunakan untuk gotong royong.

Istilah ini mempunyai makna khusus karena hanya cocok ditujukan untuk gotong royong warga dalam membangun rumah. Jadi tidak setiap gotong royong menggunakan istilah sambatan. Untuk gotong royong memperbaiki jalan fasilitas umum lainnya, istilah gugur gunung lebih populer digunakan.

Setiap pelaksanaan sambatan, pemilik rumah (yang punya gawé) tidak perlu memberikan kompensasi pada tenaga kerja. Namun mereka umumnya menyediakan makan minum seadanya.

Read the rest of this page »

Mental Juara, Meski Belum Juara

26 Desember 2011, kami mengikuti lomba masak antar desa wisata sekabupaten Sleman. Lomba dilaksanakan di Kaliurang, sebuah tempat wisata alam di lereng merapi. Materi yang dilombakan ditekankan pada potensi kuliner masing-masing dengan bahan-bahan lokal.

Lomba diikuti 14 desa wisata dari 35 desa wisata yang ada di kabupaten Sleman. Setiap peserta mengirimkan tim sebanyak 5 orang. Usaha untuk menang, sudah pasti dilakukan semua peserta termasuk kami. Dengan kepercayaan diri masing-masing setiap peserta mengerahkan segenap kemampuan dan potensi yang dimilikinya.

Tiba saat penentuan pemenang, hanya 3 peserta yang mendapat nomor. Mereka adalah desa wisata Kembang Arum (Dewi Kembar) sebagai juara pertama, dan desa wisata Kaliurang Timur sebagai juara kedua dan ketiga. Kesebelas tim peserta yang lain dipastikan tidak mendapat nomor.

Read the rest of this page »

Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata

Ini merupakan kekayaan bahasa jawa yang tak terakomodasi huruf latin. Dalam bahasa jawa, penulisan huruf vokal a/bunyi antara o & a menggunakan huruf yang sama. Untuk variasi bunyi huruf vokal yang lain seperti i/u/e juga menggunakan huruf yang sama, dengan ‘sandangan’ (tanda baca) yang berbeda. Jangan sampai salah membaca kalimat tersebut, bisa tak berarti ataupun berarti lain.

Huruf a pada ungkapan di atas dibaca dengan posisi bibir mengucapkan huruf ‘O’ tetapi yang dikeluarkan bunyi ‘A’. Maknanya adalah masing-masing tempat punya adat istiadat ataupun metoda yang berbeda dan diterima masyarakat setempat. Saya teringat ungkapan tersebut ketika mengunjungi desa wisata Plempoh di Prambanan 3 Oktober 2011 lalu. Read the rest of this page »

Sikap Merakyat Pak Mantan

Senin 29 Agustus 2011 dini hari, seorang warga kami membangunkan warga dusun dari rumah ke rumah untuk menyampaikan berita duka. Dikabarkan bahwa pak Mantan telah dipanggil Yang Maha Kuasa dalam usia 75 tahun. Pak Mantan bukanlah nama melainkan sebutan untuk bapak Dirjo Harjono. Di kampung, penggunaan sebutan profesi atau jabatan (seperti pak guru, pak lurah dll.) masih lazim digunakan daripada menyebut nama.

Ceritanya, dulu sebutan untuk pemimpin kampung adalah dukuh. Pada masa orde baru disebut dengan kepala dusun (Kadus). Sekarang diganti lagi dengan sebutan dukuh. Kedua pimpinan kampung kami (lama dan baru) mengalami penggunaan kedua sebutan tersebut. Untuk membedakan keduanya, kami menyebut pejabat lama dengan pak mantan, sedangkan sebutan untuk pejabat baru adalah pak dukuh.

Kami tak tahu apa perbedaan prinsip antara sebutan dukuh dan kepala dusun. Yang kami tahu negeri ini sok sibuk mengurus hal-hal yang tidak prinsip. Dan kejadian tadi malam, mengingatkan kami pada sikap teladan pak mantan semasa menjadi dukuh.

Masa-masa awal kepemimpinan pak mantan, alat komunikasi belum secanggih sekarang. Dulu setiap akan gotong royong kampung, pak mantan menghampiri warganya dari rumah ke rumah. Sampai pertengahan masa pengabdian (beliau mengabdi selama 27 tahun), alat komunikasi yang berkembang di kampung adalah pengeras suara – yang hanya ada di masjid. Konon alat tersebut dapat terpasang di masjid-masjid  juga dengan pendekatan politis antara penguasa – pengusaha, dan pemuka masyarakat.

Jika mau, sebenarnya ajakan gotong royong dapat diumumkan di masjid – jauh lebih efektif dan efisien. Akan tetapi pak mantan tidak melakukannya, ia tetap memilih mengajak warganya dari rumah ke rumah. Tidak efisien memang, tapi alasan beliau adalah: cara yang dipilih membuat dirinya lebih dekat dengan warga. Dan ternyata, cara yang dipilih almarhum terbukti meningkatkan partisipasi warga dalam bergotong royong. Rupa-rupanya, ‘waktu kepulangan’ pak mantan telah dipilihNya untuk mengingatkan kami pada keteladanan yang beliau tinggalkan. Selamat jalan pak mantan, terima kasih atas pelajaran berhargamu…

~!@#$%^&*()_+

Syukuran Khataman Ramadhan 1432 H

Minggu 21 Agustus 2011 kami mengadakan syukuran di masjid Al Huda Kelor. Hari tersebut merupakan kali kedua kami khatam Al Qur’an selama bulan ramadhan 1432H. Tidak seperti ramadhan yang lalu, tadarus ramadhan kali ini juga diikuti oleh anak usia 10 tahun sebagai peserta termuda.

Pada kesempatan tersebut juga disampaikan infaq dari siswa magang beberapa hari sebelumnya. Diwakili oleh Ken Husnan Isard, infaq siswa magang SMP Budi Mulia Dua (SMP BMD) disampaikan langsung kepada bendahara masjid Aa Gyan. Terima kasih adik-adik SMP BMD, selamat untuk seluruh peserta tadarus ramadhan 1432H…..

 ~!@#$%^&*()_+

Sekolah Umum bernama Masyarakat

Sabtu 13 Agustus 2011 sore menjelang berbuka puasa. Masjid Al Huda Kelor mendapat kunjungan tamu siswa kelas 9 SMP Budi Mulia Dua. Jumlah tamu ada 3 orang, yaitu: Ken Husnan Isard, Rivanda Irawan dan Ahmad Faiz Ramadhan. Tempat tinggal Ken kebetulan berada satu halaman dengan masjid tersebut. Jadi kalau dibilang tamunya 3 orang tentunya tidak persis 3 orang.

Kehadiran ketiga siswa tersebut adalah untuk magang ramadhan. Magang merupakan program sekolah yang bertujuan melatih kepekaan sosial dan kemandirian. Adapun tema yang diangkat adalah ‘Pertebal Iman dengan Kegiatan Sosial”.

Dengan cara magang, siswa dapat merasakan dan menyelami dinamika yang ada di masyarakat. Pepatah mengatakan “kamu dengar kamu lupa, kamu lihat kamu ingat, kamu kerjakan kamu mengerti”.

Ada banyak cara untuk mengerti, dan magang hanyalah salah satu diantaranya. Maka yang terjadi adalah “sekolah mengasah kemampuan siswa berpikir logis, kritis dan analitis”. Pada sisi lain, masyarakat mengajarkan kehidupan. Keduanya berguna untuk memecahkan masalah.

Tradisi keduanya berbeda. Sekolah mengajarkan tradisi akademis, sedangkan masyarakat dengan realitasnya. Dapat dikatakan bahwa masyarakat merupakan sekolah umum. Tak ada istilah tamat untuk sekolah tersebut…. ada lagi yang berminat? Kami menyediakan fasilitas dengan program live in.

 ~!@#$%^&*()_+

All Out = Hangabehi ≠ Serabutan!

Setiap memasuki bulan puasa, objek wisata di Indonesia umumnya sepi pengunjung. Tak terkecuali Desa Wisata Kampoeng Sedjarah Kelor. Meskipun kami tetap buka di bulan puasa, akan tetapi tamu yang telah memesan tercatat hanya tanggal 28 Agustus 2011. Tanggal tersebut merupakan hari-hari terakhir bulan ramadhan kali ini.

Bulan puasa merupakan hari-hari yang cukup berat untuk melakukan aktivitas berat. Akan tetapi justru sepinya pengunjung dimanfaatkan beberapa pemuda untuk memperbaiki sarana yang ada. Ketika ditanyakan mengapa memilih waktu bulan puasa? Salah satunya menjawab: “Kalau tidak bulan puasa, kapan lagi? Hanya itu waktu luang kita!”

Read the rest of this page »

Bukan Hasil, tapi Prosesnya!

Minggu 7 Agustus 2011 merupakan hari yang dinantikan santri-santri TPA Al Huda Kelor. Hari itu merupakan hari pelaksanaan lomba antar TPA sekecamatan Turi. Lomba dilaksanakan di balai desa Wonokerto. Beberapa santri telah mempersiapkan diri beberapa hari sebelumnya.

Ketika hari yang ditentukan tiba, berangkatlah delegasi lomba dengan beberapa ustadz pendamping. Sebagaimana pelaksanaan lomba yang lain, proses pelaksanaan lomba dimulai dengan registrasi – pelaksanaan lomba – penentuan pemenang dan pengumuman pemenang.

Setibanya di balai desa Wonokerto, mendaftarlah ustadz pendamping. Ternyata salah satu delegasi kami (dik Alka) tidak dapat mengikuti lomba karena usianya belum mencukupi. Lomba yang diselenggarakan adalah untuk anak-anak usia SMP, sedangkan dik Alka masih berada di kelas IV SD.

Read the rest of this page »

Selai Salak: Menu Baru DewiKadjar

Buah salak merupakan salah satu produk unggulan Kabupaten Sleman. Menurut beberapa penikmat buah salak, Sleman merupakan penghasil salak dengan rasa terlezat. Tidak seluruh Sleman, karena salak kebanyakan berada di Sleman utara (terhampar dari kecamatan Tempel, Turi, Pakem dan Cangkringan) – dan Turi adalah penghasil salak yang paling enak diantara keempat kecamatan tersebut.

Namun, pasca erupsi merapi merupakan hari-hari tidak menentu bagi sebagian besar petani salak. Bagaimana tidak, harga yang bagus menjelang lebaran 2011 kali ini tidak dibarengi dengan ketersediaan produk yang mencukupi. Selain faktor alam yang masih dalam tahap recovery, supply salak dari daerah lain turut mengacaukan harga.

Read the rest of this page »

Sadranan: Media Lain Bersosialisasi

Bulan Sya’ban bagi sebagian umat islam di Indonesia sering di identikkan dengan Nyadran (ziarah Kubur bersama). Terlepas dari perdebatan tentang perlu tidaknya sadranan, warga Kelor melakukan sadranan 1432 H pada tanggal 17 Juli 2011.

Nyadran di Kelor seperti halnya nyadran di tempat lain. Sanak saudara di rantau, pulang mengikuti acara tersebut. Sedikit pembeda yang ada adalah: warga kami yang memeluk agama lainpun sedikit banyak terlibat dalam acara tersebut. Jadilah acara nyadran di kampung kami sebagai salah satu media bersosialisasi antar warga. Nyadran seperti ini dapat disebut sebagai sadranan yang sadranis (Prasetyo, 2011).

 

~!@#$%^&*()_+

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.